Sukses Jadi Arsitek

Arsitek2

Lebih dari sekedar membuat rancangan bangunan pada sebuah kertas atau software khusus, arsitek memiliki tugas sebagai berikut:

  • Mengolah tata letak ruangan
  • Menentukan letak pipa air & sistem kelistrikan
  • Menentukan konsep desain luar & dalam bangunan
  • Menghitung biaya konstruksi bangunan
  • Menentukan jenis & tata letak transportasi dalam bangunan misalnya lift, escalator,

Bercita-cita jadi arsitek? Tidak salah karena memang profesi ini cukup dipandang dan elit baik dari segi cara kerja maupun dari sisi penghasilannya. Hanya saja, tidak mudah untuk menjadi arsitek. Pertama, harus mengenyam pendidikan lebih kurang selama 5 tahun kalau di luar negeri & 4 tahun kalau di Indonesia dalam bidang arsitektur (berikut universitas di Indonesia yang menawarkan jurusan arsitektur: Institut Teknologi Bandung atau ITB, Universitas Diponegoro atau Undip, Universitas Gadjah Mada atau UGM, Universitas Indonesia atau UI, dll). Kedua, memiliki pengalaman bekerja di perusahaan desain arsitektur atau arsitek profesional. Ketiga, mengikuti program penataran yang diadakan oleh IAI (Ikatan Arsitek Indonesia). Keempat, lulus ujian SKA (Sertifikasi Keahlian Arsitek) yang diadakan IAI. Berikut kunci sukses menjadi arsitek:

Pandai bekerjasama

Seorang arsitek dapat bekerja sendiri untuk melahirkan bangunan indah dengan segala kompleksitas. Namun, pemikiran ini hanya diwujudkan arsitek dalam sebuah gambar. Untuk mewujudkan gambar dalam sebuah karya nyata, arsitek perlu kerjasama dengan insinyur teknik dari disiplin ilmu yang berbeda. Lebih tepatnya, insinyur elektro, mesin, desain interior, dan masih banyak lagi. Akan kondisi ini, itulah sebabnya mengapa pandai bekerjasama menjadi kunci sukses seorang arsitek. Kalau tidak bisa bekerjasama karena merasa pemimpin, rasa benci, malu, dll, bangunan yang diwujudkan dalam sebuah gambar tidak bisa direalisasikan dengan maksimal.

Punya jaringan luas        

Proyek pembangunan butuh anggaran yang tidak sedikit. Belum lagi ketika menggunakan seorang arsitek dalam pengerjaannya. Akan hal ini, pihak mana pun tidak akan ambil tindakan gegabah dalam memilih arsitek untuk membangun rumah, apartemen, jembatan, stadion, rumah sakit, atau bangunan dengan kompleksitas tinggi lainnya. Biasanya yang menjadi pertimbangan adalah arsitek yang dikenal oleh keluarga, teman, tetangga, atau orang terdekat lainnya. Bertolak dari hal ini, seorang arsitek harus punya jaringan luas sebagai modal untuk menjadikan mereka sebagai klien. Kalau bukan relasi, keluarga, teman, dosen, pacar, bos, atau orang yang dekat dengan relasi bisa jadi klien.

Miliki motivasi untuk berkembang

Jadilah arsitek yang mampu berkembang dari waktu ke waktu! Perkembangan yang dapat dilihat dari rancangan arsitektur. Ingin menjadi arsitek yang menjadi buah bibir dalam konteks positif? Buat rancangan yang benar-benar berbeda dari yang pernah ada. Lihat rancangan orang lain (bukan plagiat), kemudian kembangan dari hasil pemikiran. Tunjang lagi dengan memperbanyak membaca, melihat, dan mendengarkan berbagai media mulai dari majalah sampai dengan internet. Sekali membuat karya menakjubkan, akan dikenang selamanya. Seperti halnya, Gustav Eiffel yang merancang menara Eiffel, Isozaki Arata yang merancang Kyoto Concert Hall, Augustus Welby Pugin yang merancang Gedung Parlemen Inggris.

Junjung tinggi profesionalisme

Apa pun yang terjadi, profesionalisme seorang arsitek harus dijunjung tinggi. Di antaranya, mengkonsultasikan rancangan bangunan kepada pemilik proyek sebelum menggambar dan memberikannya pada insinyur, memberikan alterinatif ide sebagai pertimbangan klien, memberikan kritik (jika diperlukan) terhadap pengerjaan yang tidak sesuai dengan rancangan, menghentikan pembangunan atau membongkar bagian bangunan yang melenceng dari perencanaan, menerima ide dari insinyur apabila proyek yang sedang dikerjakan mengalami kendala, dan tak kalah penting adalah menyelesaikan proyek tepat waktu sesuai dengan kesepakatan dengan klien.